Rabu, 18 November 2020

Tak Terdefinisi Bagian 2

BAB 2

HARI BARU



Hidup harus terus berjalan dengan semestinya,

Dengan rasa ikhlas dan sabar semua akan dilalui dengan mudah.

-Dew-


Yogyakarta

    Sepeninggal ayah, kami sekeluarga membeli rumah baru di Yogyakarta, kota kelahiran mama. Dimana menjadi kota pertemuan ayah dan mama pertama kali. Rumah yang tidak begitu luas dengan taman kecil di halaman depan. Menjadi murid baru di sekolah elite membuatku merasa kurang percaya diri. Banyak para siswa yang diantar oleh orangtuanya memakai motor, bahkan ada yang memakai mobil. Karena rumahku lumayan dekat, mama membelikan aku sepeda bekas untuk transportasi ke sekolah. Di sekolah baru ku, SD dan SMP menjadi satu kawasan. Saat itu aku duduk di bangku SD kelas 3. Menjadi sosok orang asing diantara murid-murid yang lainnya, membuatku sedikit kikuk. Ketika menuju ataupun pulang sekolah, aku terus dipandangi oleh anak-anak yang lainnya. Kata temanku, Nadira, memang seperti itu kalau ada anak baru. Dulu tubuhku begitu gemuk dengan ciri khas bando merah yang selalu aku kenakan setiap hari. Bando pemberian ayah di hari ulang tahunku tahun lalu.

    Setelah hampir 2 bulan, situasinya masih sama dengan pertama kali sekolah, aku hanya memiliki 1 teman, yaitu Nadira. Sepulang sekolah aku dipalak kakak kelas, yang waktu itu menjadi geng paling ditakuti adek kelas. Mereka ada 3 orang yaitu kak Arif, kak Afif, kak Adit, katanya 3A nama gengnya. Aku juga heran, masih kelas 4 SD sudah geng-gengan.

    “Mana, sini setor dulu, buat jajan cilok” kata kak Adit dengan nada sedikit membentak.

    “Maaf kak, aku nggak punya uang kak” jawabku jujur. Sebenarnya berani untuk melawan, tapi ya sudahlah.

    “Alasan ya kamu” bentak kak Afif

    “Gimana nih rif?” tanya kak Adit kepada ketua geng, ya kak Arif.

    “Minggir dulu. Kamu anak baru kan, jangan macam-macam ya kamu” ancam kak Arif.

    “Hei kalian ngapain?” teriak anak laki-laki dari kejauhan dan mendekat, sebelum sampai, geng 3A sudah kabur duluan. Aku yakin mereka pasti takut.

    “Kamu nggak apa-apa dek?” tanya anak laki-laki itu.

    “Nggak apa-apa kak”

    “Oiya, nama aku Al, nama kamu siapa?” sapa dia samabil menyodorkan tangan untuk bersalaman.

    “Nama aku Dewra Alfatunissa kak, panggil saja dew”

    “Kamu mau pulang?”

    “Iya kak”

    “Ayo aku anterin, jalan rumah kita satu arah. Aku sering lihat kamu pulang dari seberang jalan”

    “Makasih kak”

    Namanya kak Al, entah Al siapa. Anak kelas 6 di SDku, pantesan kak Arif dan teman-temannya langsung ketakutan. Dia memiliki wajah yang hampir mirip dengan kak Arif. Namun keduanya memiliki sifat yang berbeda, yang satu seperti malaikat penyelamat, satunya lagi seperti monster galak. Dia mengantarku pulang hingga depan pintu rumah dibonceng memakai sepedanya. Memang hari ini aku tidak memakai sepeda, karena ingin berangkat bareng Nadira. 

    Setelah kejadian itu, kak Arif menyebalkan sudah tidak menggangguku lagi. Bahkan kabarnya kak Arif pindah sekolah.

    “Sejak kak Al nolongin aku itu, geng 3A udah nggak ganggu aku lagi kak” ucapku sambil memberi makan kelinci di taman kompleks.

    “Arif udah pindah sekolah. Jadi kamu nggak akan diganggu lagi adek manis” ucapnya sambil mengelus bulu kelinci. Dia berdiri dan mendekati kura-kura kecil di dekat kolam ikan. Aku mengikuti kak Al.

    “Kamu tahu siapa nama dia?”

    “Nggak tahu, emang dia punya nama?”

    “Namanya Debo. Dulu ada anak kecil laki-laki bertamasya dengan kedua orang tuanya ke pantai. Waktu itu musim telur kura-kura menetas. Saat anak kecil itu mendekati bibir pantai, dia melihat anak kura-kura yang kakinya terluka. Akhirnya anak kura-kura itu diajak pulang ke rumah anak laki-laki itu. beberapa minggu kemudian, kura-kura tumbuh dengan baik dan tubuhnya semakin agak besar. Ibu dari anak laki-laki itu bilang “nak, kura-kuranya dilepas ya. Kita letakkan di kolam taman, biar dia merasa bebas dan anak-anak yang lain juga melihatnya tumbuh. Kamu juga bisa menjenguknya di taman”. Dengan ikhlas hati anak itu melepas kura-kura di kolam taman yang dibuatkan oleh ayahnya. “Dada, debo. Baik-baik disini ya. Aku janji setiap hari akan menjengukmu” kata anak laki-laki itu kepada kura-kura” jelas kak Al menceritakan asal-usul Debo dengan gaya kakak laki-laki yang sedang dongengin adeknya sebelum tidur.

    “Hei Debo, aku Dewra. Mulai hari ini kita jadi teman ya. Setiap hari aku akan menjengukmu” kataku sambil mengelus-elus cangkang kura-kura.

    “Dia pasti suka punya teman kayak kamu” kata kak Al kepadaku.

       Memiliki teman banyak adalah harapanku sebelum pindah. Dengan begitu aku tidak akan merasa kesepian. Bisa diajak main boneka-bonekaan, masak-masakan atau hanya sekedar main ayunan bareng. Tapi itu semua belum terkabul. Sejak aku pindah hanya ada satu teman di kelas, lalu ada kak Al juga yang sering ngajak aku main di taman kompleks. Bukan main berbi-berbian kayak anak perempuan, aku malah diajarin main layangan, main kelereng, sepak bola. Tapi nggak apa-apa daripada di rumah merasa kesepian, karena ibu kerja dan kakak sekolah sering pulang sore.


Minggu, 08 November 2020

Tak Terdefinisi

BAB 1

CINTA PERTAMA





Semua sudah ditentukan oleh Tuhan,

namun terkadang manusia hadir dalam ketidaksiapan.

-Dew-


Surakarta

    Nyatanya ketika nyawa masih berada ditubuh, dialah orang yang paling dekat denganku. Yang selalu kurindukan setiap pertemuan dengannya.  Aku rindu semua yang dimilikinya, mulai dari tawanya, pelukannya terlebih lagi hembusan nafasnya. Namun harus ku relakan dia pulang, karena Sang Pencipta lebih menyayanginya.

    Jika aku tahu hari ini adalah sebuah akhir dari kebersamaan kita, pasti aku selalu menemanimu sepanjang usia yang telah diatur oleh-Nya. Tanpa terkecuali….

    Aku keluar kamar menuju ruang tengah. Disana terdapat berbagai snack, minuman kemasan dan kardus makanan. Hari ini tepat usiaku 8 tahun. Dimana aku masih duduk di bangku kelas 2 SD. Seperti tahun-tahun sebelumnya keluarga merayakan hari ulang tahunku dengan membagikan makanan ke tetangga dan anak-anak kecil sekitar rumah.

    “Kak Maya lagi ngapain?” tanyaku ketika melihat kak Maya sibuk dengan berbagai snack. “Adek boleh ikut bantuin?”   

    “Sini-sini, kak Maya ajarin dulu ya. Nih begini caranya” kata kak Maya mengajariku membungkus snack. Aku dan kak Maya sibuk dengan berbagai macam snack, sedangkan mama tengah sibuk mempersiapkan nasi kotak. Kalau ayah, masih belum juga pulang dari merantau. Ayah adalah kepala keluarga yang bertanggungjawab, beliau menjadi tukang bangunan di propinsi Jawa Timur. Setiap satu bulan sekali beliau pulang, terkadang malah tiga bulan sekali baru pulang karena proyek yang padat. Beliau perokok aktif dan hampir menginjak kepala 5. Namun beliau masih memiliki semangat yang luar biasa. 

    “Ma, ayah kapan pulang?” tanyaku ketika mama mengambil kardus-kardus kosong di ruang tengah.

    “Nanti ayah bakal pulang sayang” kata mama sambil membelai rambutku.

    “Ma, ini kalau udah semua diletakkan dimana?” tanya kak Maya sambil mengangkat kardus berisi bungkusan snack.

    “Taruh dimeja situ aja kak” kata Mama menunjuk meja makan.

    Acara ulang tahun hanya dilakukan bersama keluarga, setelah itu membagikan nasi kotak dan bungkusan snack kepada tetangga sekitar. Jam dinding menunjukkan pukul 10 malam, ayah belum juga hadir. Mama menyuruhku untuk segera tidur di kamar, sedangkan mama masih menunggu ayah pulang. Tidurku begitu nyenyak hingga tidak sadar ayah telah berada di sampingku waktu bangun tidur.

    “Ayah” seruku sambil memeluknya dengan erat, berharap semua rindu terobati dengan segera.

    “Selamat Ulang Tahun anakku sayang” ucapnya dan membalas pelukanku dengan sebuah ciuman di kening.

    “Ayah bawa kado apa buat adek?” tanyaku penasaran

    “Bentar, tunggu disini dulu. Tutup matanya ya, nggak boleh ngintip” perintah ayah aku sanggupi tanpa protes.

    “Udah boleh dibuka?” tanyaku tidak sabar menerima kado dari ayah.

    “Bentar, hitung sampai lima puluh ya”

    “Banyak banget yah” keluhku dengan nada manja.

    “Udah hitung saja” katanya memerintahku kembali.

    “1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10….. 48, 49, 50” aku hitung dengan cepat supaya segera mendapat kado dari ayah.

    “Udah sekarang buka” perintah Ayah yang suaranya terlihat jelas di hadapanku.

    “Ayah…hahahaha lucu” kataku sambil tertawa saat melihat Ayah memakai kostum badut dan membawa kotak kado.

    “Selamat ulang tahun kami ucapkan, selamat panjang umur kita kan do’akan …” Ayah mulai bernyanyi dan berjoget seperti badut.

    “Terima kasih ayah” kataku sambil memeluk tubuh ayah.

    “Sama-sama sayang, jadi anak sholehah ya, menjadi kebanggaan orang tua, selalu lindungi mama, terus sayangi keluarga” katanya sambil mengelus rambutku. “Sekarang kita buka kadonya” sambung ayah meraih tubuhku untuk dipangku.

    “Wah bagus ayah, ini namanya apa?” tanyaku ketika melihat isi kado dari ayah.

    “Ini namanya bandana atau bando, pakainya di rambut” jelas ayah sambil memakaikan bandana warna merah ke rambutku. “Cantik anak ayah”

    “Terima kasih ayah” ucapku yang terus-terusan memeluknya tanpa henti.

Hari-hari bersama ayah terus terasa menyenangkan. Hingga aku berharap tidak ada yang memisahkan kita. Namun Allah-lah yang berkuasa atas segala sesuatunya. Sudah hampir 2 bulan ayah di rumah, seharusnya aku senang dengan keadaan ini, namun kebalikannya. Aku sangat takut akan kehilangan sosok malaikat pelindungku, terlebih lagi kesehatan ayah yang semakin menurun.

    Terhitung 1 minggu sebelum kepergiannya. Hampir satu bulan sakit batuk ayah tidak kunjung sembuh. Membuat mama semakin khawatir dengan kesehatannya. Mama memutuskan untuk membawa ayah ke RSUD, namun akibat perawatan yang kurang mewadai pihak RSUD merujuk ayah ke RS Surakarta.

    Seperti batu besar menghujam dada, mendengar kabar bahwa ayah sakit komplikasi. Sakit yang tidak pernah diharapkan oleh semua orang. Ya benar semua orang selalu berharap sehat, karena dengan tubuh yang sehat kita dapat melakukan segala aktivitas dan terus beribadah.

    Semoga ayah diberi perlindungan dan kesehatan Ya Rabb…Aamiin

    Namun takdir berkata lain…

    Hari ini setelah pulang mengaji, aku menjenguk ayah diantar oleh paklik. Kak Maya tidak ikut menjenguk karena tadi siang dia dan nenek sudah kesana. Kata nenek, ayah sudah kangen sama aku dan kondisinya sudah membaik. 

    “Sudah malam, aku mau balik dulu mas” pamit Paklik

    “Iya le. Kamu disini saja, nungguin ayah” jawab Ayah yang juga memintaku untuk menginap.

    “Terus…besok siapa yang mengantar aku pulang yah?” tanyaku yang sedikit khawatir tidak ada yang akan mengantar pulang.

    “Tenang, nanti ayah yang antar kamu pulang, naik mobil” jelas Ayah, aku tidak paham dengan penjelasannya, bagaimana mungkin ayah yang sedang sakit bisa mengantarku pulang. Apa besok memang ayah udah diijinkan pulang, kalau memang benar syukurlah. 

    “Besok kan hari minggu, jadi kamu disini saja sama mama jagain ayah”

    Jam dinding menunjukkan pukul setengah 10. Ayah dibantu mama untuk meminum obat. 15 menit setelah obat itu merasuk ke tubuh ayah, mama merasa terdapat kabut asap diatasnya. Saat itu juga, ayah merasakan kesakitan. “Ya Allah beri ayah kekuatan untuk menghadapi semua ini, untuk melawan sakitnya”. Tanpa henti bibir ayah mengucap Ya Allah, Ya Allah, Ya Allah seperti meminta ampun sekaligus meminta pertolongan kepada Sang Pencipta. Para dokter berdatangan dan segera membawa ayah menuju ruang ICU. Ada apa ini? Pikiranku belum bisa berdamai dengan keadaan dan tak bisa memahami.

    Tanpa henti mulut ini berdo’a untuk keselamatan ayah. Namun harap hanyalah harap. Sang Pencipta lebih menyayanginya. Semoga engkau ditempatkan diSurgaNya yah..Aamiin

    Apa mungkin ambulance yang membawa tubuhmu adalah mobil yang engkau janjikan kepada ku, untuk mengantarku pulang yah?

    Ayah tidak pernah ingkar janji, meski terkadang beliau menepati dalam bentuk lain yang tak bisa di mengerti.

Sepeninggal ayah…

Bagi anak perempuan ditinggal oleh ayah untuk selamanya benar-benar keadaan yang sulit. Terlebih lagi bagi anak perempuan, ayah adalah cinta pertamanya. Kehilangan mungkin hal yang lumrah. Karena sejatinya setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Jadi entah hari ini, esok, lusa atau bisa jadi sekian detik kemudian kita dipanggil oleh Sang Maha Kuasa. Hidup itu tentang meninggalkan atau ditinggalkan. Jadi perlu hati yang luas untuk menerima segala keadaan yang ada. 

Hari ini dan hari-hari berikutnya akan terus berjalan dengan semestinya meski tanpa kehadirannya.



Mungkin ragamu dan ragaku tidak bisa saling bertemu

Tetapi do’aku terus bisa bertamu

Mengusir Prokrastinasi Pada Diri

Oleh:  Dwi Lestari

Bimbingan dan Konseling Islam 5A

Institut Agama Islam Negeri Surakarta


X: “ Tugas Psikologi Agama udah belum?”

Y: “ Belum, emang deadlinenya kapan?”

X: “ Tanggal 20 November”

Y: “ Masih lama juga, besok aja ngerjainnya”

Sering kali kita berfikir bahwa masih ada hari esok untuk menyelesaikan tugas. Terkadang H-beberapa menit baru dikerjakan, hanya karena pikiran “nanti juga bisa dikerjain”. Ilustrasi percakapan di atas dapat dikategorikan ke dalam contoh perilaku prokrastinasi.

Y: Emang Prokrastinasi itu apa?

Istilah prokrastinasi dari bahasa Latin procrastinare, dari kata pro yang berarti bergerak maju dan crastinus yang berarti besok atau menjadi hari esok. Jadi, prokrastinasi adalah menunda hingga hari esok atau lebih suka melakukan pekerjaannya besok. Orang yang melakukan prokrastinasi dapat disebut sebagai prokrastinator.

Menurut Steel (dalam Urusia, 2013) mengatakan bahwa prokrastinasi adalah menunda dengan sengaja kegiatan yang diinginkan walaupun individu mengetahui bahwa perilaku penundaannya tersebut dapat menghasilkan dampak buruk.

Y: Kalau secara simple nya prokrastinasi itu kegiatan menunda, apakah semua orang yang melakukan penundaan itu bisa disebut melakukan prokrastinasi?

Jawabannya tidak. Karena ada beberapa hal yang terkadang mengharuskan seseorang untuk menunda suatu pekerjaan demi kegiatan yang lebih penting. Misal kita ada tugas membuat makalah, tetapi badan kita sedang sakit dan berujung pada kita menunda pengerjaan tugas sampai badan kita kembali fit. Kegiatan penundaan ini tidak bisa dikatakan prokrastinasi, karena ada hal penting yang lebih diutamakan yaitu kesehatan badan. Yang bisa dikatakan prokrastinasi itu semisal kita punya tugas namun kita memilih menunda pengerjaannya hanya karena ingin menyelesaikan nonton film, twitteran, stalking instagram mantan.

Y: Lalu ciri-ciri prokrastinasi itu apa saja?

Menurut Millgram (dalam Ferrari, 1995) menyebutkan bahwa tindakan disebut prokrastinasi kalau:

Kamu menunda memulai atau menyelesaikan pekerjaan

Tugas nggak selesai atau selesai tapi nggak on time

Tugas yang ditunda ini tugas penting

Penundaan ini membuatmu cemas dan merasa bersalah.

Sementara menurut Burka & Yuen (2008), ciri-ciri seorang pelaku prokrastinasi antara lain:

Lebih suka untuk menunda pekerjaan atau tugas-tugasnya

Berpendapat lebih baik mengerjakan nanti daripada sekarang

Berpendapat bahwa menunda pekerjaan adalah bukan suatu masalah

Terus mengulang perilaku prokrastinasi

Punya kesulitan dalam mengambil keputusan

Perilaku prokrastinasi sendiri memiliki dampak buruk pada pelakunya yaitu terbuangnya waktu dengan sia-sia. Sering menunda pekerjaan hingga tidak mengetahui untuk apa saja waktu yang telah terbuang. Dan rasa penyesalanpun muncul karena telah melakukan penundaan. Menurut Solomon dan Rothblum (1984) kerugian yang dihasilkan dari perilaku prokrastinasi adalah tugas tidak terselesaikan, atau terselesaikan namun hasilnya tidak maksimal, karena dikejar deadline. Menimbulkan kecemasan sepanjang waktu pengerjaan tugas, sehingga jumlah kesalahan tinggi karena individu mengerjakan dalam waktu yang sempit. Sulit berkonsentrasi karena ada perasaan cemas, sehingga motivasi belajar dan kepercayaan diri menjadi rendah.

Y: Lalu bagaimana cara yang dapat kita lakukan agar dapat meninggalkan kebiasaan menunda atau prokrastinasi?

Ada beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk meninggalkan kebiasan prokrastinasi antara lain:

1. Membuat daftar rencana

Jadwal yang sudah dibuat membantu kita untuk mengingatkan tenggat waktu yang tersedia untuk menyelesaikan setiap pekerjaan.

2. Mulailah sekarang juga

Mungkin memulai suatu hal butuh persiapan yang serius, namun jika kita terus menunda semua yang hendak kita capai semakin lama untuk diraih. Sehingga motivasi diri untuk segera memulai sekarang juga.

3. Bangun kebiasaan disiplin

Orang yang memiliki kebiasaan menunda seringkali dikaitkan dengan sikap tidak disiplin. Bangun kebiasaan disiplin untuk mengatur aktivitas pribadi sesuai jadwal.

4. Tingkatkan rasa percaya diri

Jangan meragukan kemampuan diri sendiri. jauhkan pikiran negatif bahwa kita tidak bisa melakukan. Namun segeralah memulai mengerjakan tugas sebaik-baiknya.

5. Pikirkan manfaat menyelesaikan pekerjaan lebih awal

Ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh apabila kita menyelesaikan pekerjaan lebih awal yaitu mengurangi resiko menumpuknya pekerjaan, memiliki waktu untuk melakukan perbaikan kesalahan, mendapatkan waktu luang lebih awal.


Memulai sekarang atau nanti pada pekerjaan yang sama memiliki kesulitan yang sama pula. Hanya saja kita butuh waktu yang lama untuk mendapat jawaban, apabila memilih untuk terus menunda. Jadi mau sampai kapan terus menunda dan menyia-yiakan waktu yang ada?.


Referensi:

https://www.google.com/amp/s/psikologihore.com/definisi-prokrastinasi-akademik-2019/amp/ diakses pada Jum’at, 6 November 2020. (20.46)


https://olvista.com/10-tips-mengatasi-kebiasaan-menunda-prokrastinasi/ diakses pada Jum’at, 6 November 2020. (21.57)


Ursia, Nela Regar, Ide Bagus Siaputra, dan Nadia Sutanto. 2013. “Prokrastinasi Akademik dan Self-Control pada Mahasiswa Skripsi Fakultas Psikologi Universitas Surabaya”. Makara Seri Sosial Humaniora. Vol 17 (1).


Nafeesa. 2012. “Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prokrastinasi Akademik Siswa yang Menjadi Anggota Organisasi Siswa Intra Sekolah”. Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya. Vol 4 (1).      


DISABILITAS BUKAN PENGHALANG KREATIVITAS

  DISABILITAS BUKAN PENGHALANG KREATIVITAS Oleh: Dwi Lestari (181221028) Menjadi orang yang sukses merupakan hal yang baik. Namun menjadi or...