BAB 2
HARI BARU
Hidup harus terus berjalan dengan semestinya,
Dengan rasa ikhlas dan sabar semua akan dilalui dengan mudah.
-Dew-
Yogyakarta
Sepeninggal ayah, kami sekeluarga membeli rumah baru di Yogyakarta, kota kelahiran mama. Dimana menjadi kota pertemuan ayah dan mama pertama kali. Rumah yang tidak begitu luas dengan taman kecil di halaman depan. Menjadi murid baru di sekolah elite membuatku merasa kurang percaya diri. Banyak para siswa yang diantar oleh orangtuanya memakai motor, bahkan ada yang memakai mobil. Karena rumahku lumayan dekat, mama membelikan aku sepeda bekas untuk transportasi ke sekolah. Di sekolah baru ku, SD dan SMP menjadi satu kawasan. Saat itu aku duduk di bangku SD kelas 3. Menjadi sosok orang asing diantara murid-murid yang lainnya, membuatku sedikit kikuk. Ketika menuju ataupun pulang sekolah, aku terus dipandangi oleh anak-anak yang lainnya. Kata temanku, Nadira, memang seperti itu kalau ada anak baru. Dulu tubuhku begitu gemuk dengan ciri khas bando merah yang selalu aku kenakan setiap hari. Bando pemberian ayah di hari ulang tahunku tahun lalu.
Setelah hampir 2 bulan, situasinya masih sama dengan pertama kali sekolah, aku hanya memiliki 1 teman, yaitu Nadira. Sepulang sekolah aku dipalak kakak kelas, yang waktu itu menjadi geng paling ditakuti adek kelas. Mereka ada 3 orang yaitu kak Arif, kak Afif, kak Adit, katanya 3A nama gengnya. Aku juga heran, masih kelas 4 SD sudah geng-gengan.
“Mana, sini setor dulu, buat jajan cilok” kata kak Adit dengan nada sedikit membentak.
“Maaf kak, aku nggak punya uang kak” jawabku jujur. Sebenarnya berani untuk melawan, tapi ya sudahlah.
“Alasan ya kamu” bentak kak Afif
“Gimana nih rif?” tanya kak Adit kepada ketua geng, ya kak Arif.
“Minggir dulu. Kamu anak baru kan, jangan macam-macam ya kamu” ancam kak Arif.
“Hei kalian ngapain?” teriak anak laki-laki dari kejauhan dan mendekat, sebelum sampai, geng 3A sudah kabur duluan. Aku yakin mereka pasti takut.
“Kamu nggak apa-apa dek?” tanya anak laki-laki itu.
“Nggak apa-apa kak”
“Oiya, nama aku Al, nama kamu siapa?” sapa dia samabil menyodorkan tangan untuk bersalaman.
“Nama aku Dewra Alfatunissa kak, panggil saja dew”
“Kamu mau pulang?”
“Iya kak”
“Ayo aku anterin, jalan rumah kita satu arah. Aku sering lihat kamu pulang dari seberang jalan”
“Makasih kak”
Namanya kak Al, entah Al siapa. Anak kelas 6 di SDku, pantesan kak Arif dan teman-temannya langsung ketakutan. Dia memiliki wajah yang hampir mirip dengan kak Arif. Namun keduanya memiliki sifat yang berbeda, yang satu seperti malaikat penyelamat, satunya lagi seperti monster galak. Dia mengantarku pulang hingga depan pintu rumah dibonceng memakai sepedanya. Memang hari ini aku tidak memakai sepeda, karena ingin berangkat bareng Nadira.
Setelah kejadian itu, kak Arif menyebalkan sudah tidak menggangguku lagi. Bahkan kabarnya kak Arif pindah sekolah.
“Sejak kak Al nolongin aku itu, geng 3A udah nggak ganggu aku lagi kak” ucapku sambil memberi makan kelinci di taman kompleks.
“Arif udah pindah sekolah. Jadi kamu nggak akan diganggu lagi adek manis” ucapnya sambil mengelus bulu kelinci. Dia berdiri dan mendekati kura-kura kecil di dekat kolam ikan. Aku mengikuti kak Al.
“Kamu tahu siapa nama dia?”
“Nggak tahu, emang dia punya nama?”
“Namanya Debo. Dulu ada anak kecil laki-laki bertamasya dengan kedua orang tuanya ke pantai. Waktu itu musim telur kura-kura menetas. Saat anak kecil itu mendekati bibir pantai, dia melihat anak kura-kura yang kakinya terluka. Akhirnya anak kura-kura itu diajak pulang ke rumah anak laki-laki itu. beberapa minggu kemudian, kura-kura tumbuh dengan baik dan tubuhnya semakin agak besar. Ibu dari anak laki-laki itu bilang “nak, kura-kuranya dilepas ya. Kita letakkan di kolam taman, biar dia merasa bebas dan anak-anak yang lain juga melihatnya tumbuh. Kamu juga bisa menjenguknya di taman”. Dengan ikhlas hati anak itu melepas kura-kura di kolam taman yang dibuatkan oleh ayahnya. “Dada, debo. Baik-baik disini ya. Aku janji setiap hari akan menjengukmu” kata anak laki-laki itu kepada kura-kura” jelas kak Al menceritakan asal-usul Debo dengan gaya kakak laki-laki yang sedang dongengin adeknya sebelum tidur.
“Hei Debo, aku Dewra. Mulai hari ini kita jadi teman ya. Setiap hari aku akan menjengukmu” kataku sambil mengelus-elus cangkang kura-kura.
“Dia pasti suka punya teman kayak kamu” kata kak Al kepadaku.
Memiliki teman banyak adalah harapanku sebelum pindah. Dengan begitu aku tidak akan merasa kesepian. Bisa diajak main boneka-bonekaan, masak-masakan atau hanya sekedar main ayunan bareng. Tapi itu semua belum terkabul. Sejak aku pindah hanya ada satu teman di kelas, lalu ada kak Al juga yang sering ngajak aku main di taman kompleks. Bukan main berbi-berbian kayak anak perempuan, aku malah diajarin main layangan, main kelereng, sepak bola. Tapi nggak apa-apa daripada di rumah merasa kesepian, karena ibu kerja dan kakak sekolah sering pulang sore.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar